Senin, 20 Februari 2017

Membedong bayi sudah biasa dilakukan, namun ada kontroversi yang menganggap bedong yang kurang baik dapat berdampak buruk bagi bayi.

bedong bayi
Membedong bayi sedang diperdebatkan dampak negatifnya
Sudah menjadi kebiasaan bahwa setiap bayi yang baru lahir dibedong hingga usia beberapa bulan. Bedong konon dipercaya dapat membantu meluruskan kaki bayi yang ketika lahir cenderung dalam posisi ditekuk seperti kaki katak, walaupun ini hanyalah mitos.
Selain itu, bayi  yang dibedong juga lebih anteng karena ia merasa lebih hangat dan nyaman seperti ketika ia masih berada di dalam rahim. Untuk kita, bayi jadi lebih mudah digendong dan mudah disusui karena tangan dan kakinya tidak bergerak-gerak tak menentu.
Namun, baru-baru ini ada kontroversi tentang dampak negatif bedong. Berita CBC News beberapa waktu lalu mengulas tentang bedong. Cara membedong yang tidak tepat diduga dapat memberi pengaruh buruk, yaitu :
1. Bila kita memaksa meluruskan kaki bayi yang biasanya tertekuk seperti kaki katak, dampak negatifnya adalah pada perkembangan tulang pinggul bayi
2. Kaki dan tangan bayi tidak dapat ia gerakkan, sehingga dapat mengganggu perkembangan gerak motoriknya
3. Dapat membuat bayi terlalu banyak tidur dan cenderung kurang makan. Jadwal makan (menyusui) yang dianjurkan adalah setiap 3 jam sekali.
Hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan dampak negatif bedong tersebut. Namun para ahli yang tidak menyetujuinya menyarankan agar kita membiarkan tangan bayi bebas bergerak dan pastikan leher bayi tetap bisa menoleh ke kiri dan ke kanan.
Dengan usulan ini, bedong hanya seperti kain kemben yang dimulai dari dada bayi. Sedangkan untuk bagian kakinya, perlu sangat berhati-hati agar tidak memaksa bayi meluruskan kakinya.
Saya termasuk orang yang setuju bahwa bayi butuh ruang bebas untuk bergerak, karena kemampuan gerak motoriknya berkembang terus seiring dengan waktu. Saya hanya membedong bayi pada minggu pertama setelah ia lahir, kemudian saya tidak pernah melakukannya lagi.
Inilah tips membedong bayi agar aman untuk si kecil, di halaman berikut:

Tips membedong bayi

Bagaimanapun, membedong atau tidak menjadi pilihan bagi setiap orang tua. Bila Anda ingin membedong bayi Anda, pastikan cara membedongnya baik dan benar, sehingga dampak negatif yang ditakutkan para ahli dapat dihindari.  Berikut ini tips yang perlu diikuti:
1. Pilih bahan yang nyaman dan tebalnya disesuaikan dengan kondisi udara agar bayi tidak kepanasan.
2. Jangan memaksa meluruskan kaki bayi, karena dapat mengganggu tulang pangkal paha. Ada pendapat yang mempercayai bahwa kaki bayi yang cenderung dilipat adalah hal alami dan akan lurus sendiri tanpa bantuan bedong. Dalam hal ini, di bagian kaki bayi dapat diberikan ruang gerak yang cukup supaya bayi masih dapat menggerakkan kakinya.
3. Pastikan wajah, terutama mulut dan hidung bayi tidak tertutup kain.
4. Pantau terus reaksi bayi – bila ia terlihat tidak nyaman, segera bukakan bedong karena ia mungkin kepanasan atau bedongan terlalu kencang.
5. Bila Anda kurang mahir membedong, kantong bayi atau bedong modern yang banyak dijual akhir-akhir ini, dapat menjadi pilihan lain.
Bila Anda ingin berbagi informasi ini dengan teman lainnya, sebarkan artikel ini melalui Facebook, Twitter, dan G+




Mengapa para ahli melarang pemberian madu untuk bayi di bawah 1 tahun? Apakah madu yang sudah diproses aman untuk bayi? Baca ulasannya di sini.

Kita tentunya mengetahui manfaat madu yang luar biasa bagi kesehatan. Namun tahukah Anda tentang risiko bahaya madu untuk bayi yang belum berusia 1 tahun?
Banyak sekali informasi yang beredar di sekitar kita, dan sayangnya kita sulit menyaring mana informasi yang benar dan salah. Terkadang, mitos sudah menjadi kebiasaan turun temurun dan dianggap suatu hal yang benar. Seperti halnya kebiasaan mengoleskan madu ke mulut atau empeng bayi yang sering dilakukan orangtua jaman dahulu.
Lalu seperti apakah bahaya madu untuk bayi? Dan apakah benar madu yang sudah diproses aman untuk bayi? Kali ini, kami membahasnya untuk Anda.

Bahaya madu untuk bayi

Di Inggris, kita selalu menemui tulisan "Unsuitable for infants under 12 months" pada semua botol madu yang dijual di toko ataupun supermarket. Beberapa negara lainpun melarang penggunaan madu untuk bayi di bawah 1 tahun.
Hal ini diawali pada tahun 1976, di mana sindrom infant botulism menyerang ratusan bayi di California. Saat itu, ditemukan tanda-tanda spora botulism pada BAB mereka.
Dua tahun kemudian the California Department of Health Services, melakukan penelitian epidemis terhadap 550 sampel makanan, obat-obatan dan benda-benda yang ada di lingkungan sekitar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 5 sampel tanah, 1 sampel debu dari vacum cleaner dan 9 sampel madu mengandung bakteri clostridium botulinum.
Bayi di bawah 1 tahun belum cukup kuat untuk mentoleransi bakteri tersebut. Tingkat kematian akibat Clostridium botulinum adalah 1,3%.
Oleh karena itulah, madu untuk bayi sangat tidak dianjurkan, meski telah dikenal sebagai salah satu pengobatan alami penghilang batuk dan panas dalam.
Bagaimana gejala infant botulism? Dan apakah madu yang saya gunakan aman untuk bayi? Simaklah

Gejala bayi terserang bakteri Clostridium Botulinum

Jika bayi terserang bakteri Clostridium Botulinum, gejala yang mungkin timbul meliputi:
  • Konstipasi
  • Nafsu makan / minum susu menurun
  • Otot tangan dan kaki lemah
  • Daya hisap ASI berkurang
  • Tangisan lebih lemah daripada biasanya
  • Leher lebih lemah daripada biasanya, sehingga tidak kuat menahan kepala
  • Ekspresi wajah berkurang dibandingkan biasanya
  • Terkadang tidak dapat menelan
  • Dapat disertai kesulitan bernafas
Pertolongan medis sangat dibutuhkan untuk menangani penyakit tersebut.

Apakah madu yang telah diproses lebih aman untuk bayi?

Menurut UCSB Science Line, Bakteri Clostridium Botulinum tidak mudah dimatikan dengan proses pemanasan biasa. Memanaskan madu hingga mendidihpun tidak mematikan sporanya. Efek racun bateri tersebut hilang setelah dididihkan selama 10 menit, tetapi sporanya tidak mati.
Spora Bakteri Clostridium Botulinum mati bila dipanaskan di atas 120 Celcius dalam kondisi underpressure selama 30 menit, misalnya dengan pressure cooker atau presto. Namun kita tidak tahu apakah suhu di dalam presto tersebut mencapai 120C.
Bakteri Clostridium Botulinum juga pernah ditemukan pada madu yang telah di pasteurisasi. Jadi, sebaiknya hindarilah madu untuk bayi di bawah 1 tahun.
Temukan alasan lainnya di bawah ini:

Alasan lain

Para ahli kesehatan tidak menyarankan madu untuk ditambahkan pada makanan atau minuman bayi karena dapat merusak gigi. Bayi yang sering mengkonsumsi makanan atau minuman manis akan ketagihan makanan atau jajanan manis dan cenderung menolak makanan lainnya.
Untuk itulah disarankan MPASI bayi di bawah 1 tahun bebas garam dan gula, walaupun sebagian ibu tidak dapat melakukannya secara konsisten ketika si anak mulai susah makan.
Alternatif terbaik untuk memberi rasa pada makanan adalah dengan mencampur buah pada makanannya, atau sayuran yang memiliki rasa manis seperti wortel. Sumber makanan tersebut memiliki rasa manis yang natural, tidak beresiko dan juga mengandung vitamin dan mineral yang penting untuk tumbuh kembang bayi.


Sabtu, 18 Februari 2017





PopCash.Net adalah salah satu bisnis online terpercaya dengan sistem khusus di popunders CPM (Cost Per Million). Sistem ini membayar member atau publisher dengan berdasarkan jumlah impresi dari trafik sebuah situs.

Jika anda sudah mempunyai situs yang mempunyai pengunjung stabil saya rasa sobat dollar hunter wajib untuk mencoba PopCash.Net ini.
Untuk pembayaran pada PopCash, dapat dilakukan setiap hari setelah mencapai minimum pembayaran yaitu sebesar $10.00, pembayaran akan dikirim dalam waktu 24 jam ke akun PayPal, PayZa, atau Paxum.

Berikut sedikit pendapatan yang saya sudah dapat minggu ini ~


Oke tak perlu berlama lama lagi langsung saja simak cara daftar nya : 


  • Pertama silahkan masuk Kesini => POPCASH

                          
  • Kedua klik Register dan isi semua data data jangan lupa di centang pada I have read and agree with the terms and conditions dan klik submit :)

                         
  • Setelah itu masuk ke menu dashboard & ajukan situs yang akan di pasang iklan dari PopCash Klik ADD A New Website , masukan data blog mu dan klik add website

                     
  • Tidak sampai 24 jam biasanya PopCash akan menyetujui situs sobat dollar hunter & itu artinya sobat dollar hunter siap untuk mengambil kode yang harus kita pasang di situs kita, berikut saya berikan Screen Shot contoh pengambilan kode iklan dari PopCash dan masukan kode tersebut kedalam blog anda
    .
                                           
  • Silahkan nikmati Penghasilan anda hanya dengan meningkat kan traffik blog anda otomatis pundi pundi dollar pun akan terus mengalir :D

    ~ BERIKUT BUKTI PEMBAYARAN DARI POPCASH ~
             
                                          
    Oke cukup sekian , selamat mencoba dan semoga bermanfaat :)

Rabu, 15 Februari 2017

 



 

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan empeng berkepanjangan bisa meningkatkan risiko infeksi telinga pada anak.

Infeksi telinga atau otitis media adalah salah satu alasan umum kunjungan ke dokter spesialis anak (DSA). Itulah sebabnya para ahli tertarik mencari tahu bagaimana cara mengurangi risiko terjadinya infeksi telinga.
Kadang infeksi telinga tidak berbahaya, namun cukup membuat anak menderita dan kesakitan.
Di Finlandia, sebuah tim DSA menduga penggunaan empeng bisa menjadi penyebab infeksi telinga. Mereka melakukan penelitian yang membandingkan penggunaan empeng dan risiko infeksi telinga anak.
Hasilnya menunjukkan bahwa pembatasan penggunaan empeng bisa mengurangi infeksi telinga anak hingga 29%.
Seorang profesor bidang spesialis infeksi anak di University of Oulu Finlandia, Marjo Niemela, MD, PhD mengatakan,"Kami pikir kita mestinya menghentikan total penggunaan empeng untuk melihat efeknya, namun kami menemukan bahwa dengan membatasi saja penggunaannya saat bayi tertidur, sudah bisa mengurangi gejala otitis media."
Niemela mengatakan,"Kami menggunakan intervensi yang sangat sederhana yang positif dan didesain sedemikian rupa sehingga tak meningkatkan kegelisahan orangtua selama penelitian ini." Dia mengatakan, sekitar 80% bayi menggunakan dot hingga usia 2 atau 3 tahun, jadi penggunaan empeng memang sangat umum.
Bagaimana cara penelitiannya?
Penelitian ini terdiri dari dua tim. Tim pertama terdiri dari sekitar 270 anak di atas enam bulan yang menggunakan empeng hanya saat anak akan tertidur. Penggunaan empeng juga dibatasi hingga anak berusia 10 bulan.
Sementara sekitar 200 anak lain terus menggunakan empeng tanpa batasan tertentu. Semua anak dalam penelitian ini diikuti perkembangannya hingga 18 bulan.
Bagaimana hasilnya?

Dibandingkan dengan anak yang menggunakan empeng tanpa batasan, anak di kelompok pertama bisa mengurangi penggunaan empeng hingga 21%.
Secara keseluruhan anak yang tidak menggunakan empeng secara terus menerus dalam kedua kelompok ini mengalami infeksi telinga 33% lebih sedikit daripada yang sering menggunakan empeng.
Tim peneliti ini tidak menganjurkan membatasi total penggunaan empeng. Misalnya untuk bayi enam bulan ke bawah, penggunaan empeng dikatakan tidak berbahaya.
Soal desain empeng yang sering diperdebatkan, Niemela mengatakan dia tak bisa mengomentari hal itu. "Kami tak belajar desain empeng untuk menentukan apakah peningkatan risiko tergantung pada jenis empeng."
Banyak orang tua berpikir trik untuk penggunaan empeng yang aman adalah kebersihan. Di sini Niemela mengatakan bahwa itu bukan hal yang diteliti dalam penelitian ini. Menurutnya, bakteri memang sangat mudah tumbuh di dalam dot, namun itu belum tentu penyebab infeksi telinga anak.
Pendapat berbeda
Robert C. Sprecher, MD, kepala divisi THT di Rainbow Babies and Children Hospital di Cleveland, mengatakan ia tidak yakin bahwa empeng meningkatkan risiko infeksi telinga anak.
Sprecher mengatakan ada kemungkinan lain bahwa orang tua menggunakan empeng untuk anak yang rewel karena infeksi telinga. Karena itu perlu dipertanyakan manakah yang lebih dulu, infeksi telinga atau penggunaan empeng?
Menurut dia dua faktor yang bisa dikaitkan dengan infeksi telinga anak adalah genetik dan day care. Kita tidak dapat melakukan apa-apa terkait genetika dan sulit untuk tidak tergantung pada jasa tempat penitipan anak, di mana anak sering tertular pilek dari teman-temannya di sana. Pilek adalah salah satu pemicu infeksi telinga pada anak.
Namun Sprecher mengatakan bahwa penggunaan empeng memang sudah dikaitkan dengan peningkatan infeksi oral dan dengan masalah gigi. Untuk itu memang bijaksana untuk mendorong mengurangi penggunaan empeng.
Sementara itu, The American Academy of Pediatrics, dalam buku Caring for Your Baby and Your Child, menulis tentang penggunaan empeng: "Empeng tidak menyebabkan masalah medis atau psikologis. Jika bayi Anda ingin menghisap lebih dari saat menyusui atau lebih dari apa yang disediakan botol susu, empeng memenuhi kebutuhan itu."
Nah, Parents, bagaimana menurut Anda?

 

Sebagai orangtua, kita sering tak sengaja berteriak pada anak-anak. Sekalipun tahu bahwa itu bukan hal baik, kita hanya tak tahu cara menghentikannya.

Ada banyak hal menyebalkan yang terjadi saat mengasuh anak. Sekalipun kita sudah membekalinya dengan beragam teori pola pengasuhan, yang terjadi di kenyataannya seringkali jauh lebih susah sehingga secara tak sengaja kita melakukan pelanggaran parenting, misalnya berteriak pada anak-anak.
Berteriak pada anak-anak tak hanya buruk untuk perkembangan anak, namun juga membuat Anda tampak seperti orangtua yang buruk. Sayangnya, sekuat apapun Anda menghindarinya, kadang teriakan frustasi pada anak acapkali keluar tanpa sadar, terutama saat Anda benar-benar sudah lelah.
Berikut 10 cara sederhana yang akan membuat Parents berhenti berteriak pada anak-anak:

1. Bayangkan pengalaman yang akan dialami oleh anak dan reaksinya terhadap Anda

Secara psikologis, seseorang akan lebih mengingat peristiwa buruk dalam hidupnya daripada peristiwa menyenangkan. Apakah Anda mau dikenang oleh anak sebagai orangtua yang suka marah-marah?
Reaksi yang anak tampilkan saat Anda berteriak padanya bisa jadi beragam. Namun, Anda perlu mengingat bahwa ia tidak akan pernah melupakan teriakan Anda sekalipun Anda akan melupakannya besok saat mengajak anak jalan-jalan.

2. Jangan terjebak pada teriakan

Jika otot rahang dan tenggorokan Anda mulai menegang dan volume Anda lebih keras dari biasanya, maka itu menunjukkan waktu yang tepat untuk berhenti bersuara. Ambil nafas dalam-dalam, hitung 1... 2... 3... 4 dan seterusnya dalam hati, dan tarik nafas dalam-dalam lagi.
Jika ini kurang melegakan, pergilah ke ruangan kedap suara. Jika ruangan kedap suara tak ada, Anda bisa memasukkan kepala Anda di dalam air dan berteriaklah di sana.

3. Mengakui bahwa berteriak pada anak-anak adalah metode yang tidak efektif

Tegas sama sekali berbeda dengan galak. Selain itu, anak hanya akan menganggap bahwa Anda adalah orangtua yang cerewet terhadap banyak hal dalam hidupnya. Selain itu, alih-alih dituruti oleh anak, Anda hanya akan tampak seperti orang yang tidak berwibawa di matanya.

4. Menyadari bahwa teriakan Anda tidak akan baik untuk keluarga

Berteriak tidak akan baik untuk tubuh Anda yang lelah, apalagi bagi yang mendengarnya. Selain itu, berteriak pada anak-anak akan membawa masalah baru di dalam keluarga terutama jika pasangan juga tidak setuju dengan cara Anda berteriak pada anak-anak.

5. Berkomitmen untuk berhenti meneriaki anak

Seperti kebiasaan buruk lain, dibutuhkan rutinitas dan komitmen untuk membuat Anda benar-benar berhenti untuk berteriak. Sekali dua kali secara tak sengaja Anda akan tetap berteriak, namun itu adalah tanda bahwa komitmen yang Anda buat untuk diri sendiri harus makin diperkuat.
Konon, butuh waktu hanya dua minggu untuk membuat sebuah kebiasaan baik maupun buruk. Maka, gunakan metode tersebut untuk membuat Anda berhenti berteriak.
Setiap kali Anda terlanjur berteriak, catatlah waktu kejadian dan durasinya. Jangan lupa untuk menuliskan sebabnya. Hal ini akan baik untuk membuat Anda introspeksi diri.

6. Tundalah reaksi Anda

Ini memang tidak sesederhana yang dikatakan. Namun, jika Anda bisa menunda reaksi yang mungkin muncul secara otomatis pada saat kejadian tertentu, maka tundalah reaksi tersebut.
Anda bisa mengatasinya dengan keluar ruangan, atau pun hanya sekedar diam sambil menarik nafas panjang. Barangkali tindakan anak memang sedang menyebalkan, tapi bukan berarti Anda harus membalasnya dengan bertindak menyebalkan juga.

7. Tanamkan di dalam kepala bahwa anak akan meniru apapun yang Anda lakukan

Jika Anda suka berteriak pada anak, maka tak heran jika anak akan tumbuh sebagai orang yang suka berteriak pada orang lain. Orang lain yang diteriaki oleh anak Anda akan langsung mengira bahwa perilaku tersebut berasal dari didikan Anda.

8. Tidak berteriak bukan berarti tidak peduli soal kedisiplinan Anak

Mendisiplinkan anak tak bisa dilakukan dengan cara berteriak. Mungkin anak akan menuruti perintah Anda yang disampaikan dengan berteriak, namun anak akan jadi sosok pembohong di depan orangtua demi menghindari teriakan Anda.

9. Pelajari polanya

Anda perlu memperhatikan, peristiwa apa saja yang biasanya membuat Anda berteriak. Jika sudah, waspadai jika saat-saat tersebut datang lagi.
Anak juga akan mempelajari pola temperamen Anda. Saat anak berbuat sebuah kesalahan, sebenarnya ia tahu bagaimana Anda akan meresponnya.
Sayangnya, beberapa anak yang cukup cerdas bisa menggunakan pola dan temperamen Anda ini untuk mengontrol orangtuanya. Kejutkan ia dengan respon yang berbeda dari biasanya untuk mengakhiri pola tersebut.

10. Minta maaf

Saat Anda terlanjur keceplosan berteriak, segeralah minta maaf pada anak. Anda bisa mengucapkannya secara lisan maupun dengan pelukan. Akui bahwa Anda telah melakukan kesalahan padanya.
Mengalkui bahwa diri Anda bersalah tak akan membuat wibawa Anda turun. Malah sebaliknya, itu akan membuat anak melihat bahwa Anda cukup ksatria untuk mau mengakui kesalahan.
Lambat laun, anak juga akan meniru sikap besar hati Anda. Lebih bagus lagi jika Anda bisa mendiskusikan pada anak tentang persoalan tersebut secara baik-baik dan dewasa.
Jika 10 hal tersebut berhasil dilakukan, Anda dan anak akan memperoleh manfaat dari pelatihan managemen emosi ini. Sehingga kecerdasan emosional Anda dan anak akan lebih terasah lagi.
Yuk bulatkan tekad untuk berhenti berteriak kepada anak-anak di rumah. Kalau 10 tips di atas sulit untuk dipraktekan, pegang satu prinsip ini: marah-marah akan membuat Anda cepat tua.

 

 

Balita suka berteriak tak terkendali saat jalan-jalan memang bikin mati gaya. Atasilah dengan tips berikut ini.

Balita suka berteriak karena butuh perhatian

Mungkin Anda pernah malu berat saat balita Anda berteriak di tengah-tengah keramaian orang. Misalnya, saat jalan-jalan di mall atau saat Anda menghadiri pesta keluarga. Jangan khawatir Bu, kita semua pernah mengalaminya.
Termenung memikirkan watak balita yang seperti angin ribut tidak akan memecahkan masalah. Daripada suntuk karena galau, cobalah menerapkan beberapa tips mengatasi balita suka berteriak di tempat umum ala theAsianParent.com.

1. Jangan siram api dengan bensin

Adalah sebuah kesia-siaan jika Anda mencoba mendiamkan balita yang berteriak dengan berteriak juga. Berteriak adalah ungkapan emosi negatif, mana mungkin teriakan itu berhenti jika Anda menyiramnya dengan bensin.
Tarik dan buang nafas dalam-dalam, lalu tegur balita Anda dengan nada suara senormal mungkin. Tidak tinggi, namun juga tidak terlalu rendah seperti orang hendak menangis.

2. Jangan ganggu rutinitasnya

Balita suka berteriak karena ia merasa tidak nyaman. Ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya, dan ia berteriak demi memperoleh perhatian Anda.
Mungkin ia sedang merasa lapar, atau mengantuk. Atau saat itu adalah jamnya minum jus dan Anda tak menyediakan jus untuknya.
Usahkan agar ia tetap menjalani rutinitasnya meski tidak sedang berada di rumah. Tetap berikan ia makan, meski saat itu Anda sedang memilih-milih baju di departemen store.
Tetap tidurkan ia di jam tidurnya, meski ada banyak kerabat dan anak-anak kecil berkumpul di rumah.

3. Jangan bepergian ke tempat-tempat tenang

Mengajak anak makan di restoran mewah yang penuh dengan tamu bersikap sopan dan kelas atas pasti akan membuat Anda kehilangan muka, jika hobi berteriaknya kumat.
Bila Anda hendak makan bersama seluruh keluarga di restoran, pilihlah tempat yang banyak pengunjungnya. Tidak akan ada banyak orang yang melihat ke arah Anda saat si balita berteriak, karena suara teriakannya 'tenggelam' dalam kebisingan.

4. Pahami perasaannya

Balita suka berteriak karena Anda tidak memberinya kue yang ia inginkan? Jangan lantas menyerah dan memberikan apa yang diiinginkannya, Bunda. Kita tahu kebiasaan semacam ini tidak baik untuk perkembangan karakternya.
Katakan padanya Anda tahu ia marah, ia bisa makan kue nanti kalau sudah sampai di rumah. Terus katakan ini berulang kali sampai ia tenang. Ingat, gunakan nada datar saat mengatakannya.

5. Jangan panik

Apa yang Anda rasakan saat mengajak anak main ke mall dan tahu-tahu ia berteriak sekencang-kencangnya karena ngambek?
Salting, gugup, panik karena semua mata memandang? Tidak perlu diambil pusing, Bunda. Biarkan saja mereka melihat, memangnya mereka nggak seperti itu saat masih balita?
Bersikaplah setenang mungkin, seolah sedang tidak terjadi apa-apa.
Rasa panik akan membuat Anda hilang akal. Anda tak bisa memutuskan apa yang harus dilakukan bila balita suka berteriak. Ujung-ujungnya Anda pun stres dan kapok jalan-jalan bersama si kecil lagi.

6. Alihkan perhatiannya

Nah, Anda sudah tahu kan sekarang balita suka berteriak karena ia merasa Anda sibuk berbelanja dan mengacuhkannya?
Cobalah untuk tetap mengajaknya bicara saat Anda sedang sibuk memilih buah-buahan di supermarket. Misalnya, "Tuh lihat ada pak polisi berdiri di sana," (padahal yang berdiri di situ pak satpam), atau "Buah ini rasanya enak loh Dek."
Perhatiannya akan tertuju pada hal yang Anda tunjukkan dan ia akan mengamatinya selama beberapa saat. Kalau ia tampak sudah merasa bosan, tunjukkan lagi hal lain yang mungkin akan disukainya.

7. Biarkan ia jadi bos

Mirip seperti segerombolan mahasiswa yang berdemo di jalan, balita berteriak karena ia ingin didengar. Jadi, lakukan apa yang ia mau. Dengarkan apa yang ia inginkan. Berikan ia kesempatan untuk memilih.
Saat Anda membeli pasta gigi untuknya, tanyakan pasta gigi mana yang dia suka, yang ada gambarnya Batman atau yang bergambar Hello Kitty.
Membiarkannya memilih atau mengambil keputusan akan menjadikan anak lebih tenang karena ibunya menganggap dirinya penting. Ia merasa tidak perlu lagi berteriak agar Anda mendengar suaranya.
Parents, selamat 'menaklukkan' si kecil yang suka berteriak.


 

Penelitian selama 50 tahun ini menunjukkan bahwa memukul anak bisa menyebabkan trauma, IQ rendah, perilaku anti sosial, dan gangguan kesehatan mental.

Saat anak berbuat nakal, atau tidak mematuhi permintaan, seringkali orangtua merasa geram dan ingin memukulnya. Bahkan ada beberapa orangtua yang menerapkan memukul anak di tangan atau di pantat sebagai cara untuk mendisiplinkan anak.
Tapi parents, berhati-hatilah. Memukul anak bisa menyebabkan IQ-nya menjadi rendah, selain itu, pemukulan walaupun tidak meninggalkan bekas luka tetap menimbulkan trauma bagi anak-anak. Beberapa studi telah membuktikannya.

Anak yang sering dipukul cenderung memiliki IQ yang rendah

Sebuah penelitian yang melibatkan ratusan anak-anak di Universitas New Hampshire Amerika Serikat menunjukkan, anak yang sering mendapat pukulan, cenderung memiliki tingkat IQ yang rendah.
Murray Straus, pemimpin riset ini menyatakan, “Penelitian menunjukkan bahwa menghindari pemukulan dan menjalankan metode lain untuk mendisiplinkan anak bisa membantu anak agar lebih cerdas.”
“Saya yakin, memukul anak menyebabkan kemunduran dalam perkembangan anak dan kemampuan mentalnya.”
Straus dan rekannya Mallie Paschall dari Institute for Research and Evaluation di Maryland meneliti sejumlah anak yang mewakili anak-anak di negara mereka. Straus dan Paschall membaginya ke dalam dua grup berdasarkan umur, 806 anak usia 2-4 tahun, dan 704 anak berusia 5-9 tahun.
Mereka menguji tingkat IQ si anak pada awal penelitian, kemudian mengujinya kembali empat tahun kemudian. Anak-anak yang berada di kedua grup terbukti bertambah cerdas.
Tetapi anak-anak umur 2-4 tahun yang mengalami pemukulan memiliki skor 5 poin lebih rendah, dibanding mereka yang tidak pernah dipukul orangtuanya. Anak-anak umur 5-9 tahun yang pernah dipukul, rata-rata nilai IQ-nya lebih rendah 2.8 poin dibandingkan rekan mereka yang tidak dipukul.
Riset ini juga melibatkan statistik yang menerangkan pendidikan orangtua, pemasukan bulanan, stimulasi kognitif dari orangtua, dan faktor-faktor lain yang bisa memengaruhi kesehatan mental anak.
“Berlawanan dengan apa yang dipercayai orang, dipukul oleh orangtua adalah pengalaman traumatis bagi anak, kami mengetahui dari berbagai penelitian bahwa trauma menekan otak secara negatif,” ujar Straus.
Trauma juga bisa menyebabkan anak-anak mengalami stres saat menghadapi situasi sulit, dan kemampuan kognitifnya juga tidak bekerja dengan baik.
Dengan memukul, orangtua memberikan hukuman agar anak memerhatikan dan berperilaku sesuai keinginan orangtua. Tapi hal ini tidak merangsang anak untuk berpikir secara mandiri, sehingga mencegah anak untuk menemukan solusi terbaik dari masalah yang ia hadapi secara mandiri. Karena anak akan cenderung berperilaku baik hanya untuk menghindari pukulan.

Dampak panjang memukul anak

Sebuah penelitian lain dilakukan selama 50 tahun di Universitas Texas dan Universitas Michigan, melibatkan lebih dari 160 ribu anak-anak dan dipublikasikan di Journal of Family Psychology.
Riset tersebut menemukan bahwa anak-anak yang dipukul, cenderung memiliki sikap menentang, perilaku anti sosial meningkat, agresif, kesehatan mental yang bermasalah, dan juga kemampuan kognitif rendah.
Studi ini memusatkan pada anak-anak yang mengalami pemukulan secara wajar, seperti pukulan di pantat, atau tamparan di tangan. Dan pemukulan yang bersifat kekerasan yang menyebabkan luka berbahaya.
Andrew Grogan-Kaylor, rekan profesor di Universitas Michigan yang menjadi co-author dalam studi ini menemukan bahwa pemukulan (dilakukan dengan telapak tangan terbuka pada pantat atau kaki dan tangan anak), secara signifikan berhubungan dengan 13 dari 17 dampak merugikan yang mereka teliti.
“Pemukulan membuahkan hasil yang berlawanan dengan apa yang orangtua inginkan,” ujar Andrew.
Elizabeth dan Andrew meneliti dampak jangka panjang pada orang dewasa yang mengalami pemukulan saat masih anak-anak. Hasilnya, mereka yang lebih sering dipukul cenderung menampakkan perilaku anti sosial dan mengalami masalah kesehatan mental.
Orang dewasa yang mereka teliti juga cenderung akan melakukan jenis hukuman yang sama pada anaknya, yang menjadi kunci bahwa perilaku menghukum anak dengan memukul diwariskan dari generasi ke generasi.
Laporan UNICEF tahun 2014 menyatakan bahwa 80% orangtua di seluruh dunia melakukan pemukulan sebagai cara untuk mendisiplinkan anak. Para peneliti juga telah melihat berbagai macam studi yang menunjukkan bahwa pemukulan seperti ini menghasilkan dampak negatif.
“Masyarakat berpikir bahwa dengan dipukul anak akan menunjukkan perilaku berbeda. Namun penelitian kami menunjukkan bahwa pemukulan berhubungan dengan dampak negatif yang serupa dengan akibat dari kekerasan, hanya beberapa tingkat lebih rendah.”
Elizabeth berharap bahwa studi yang dilakukan oleh mereka bisa mengajarkan orangtua potensi bahaya dari memukul anak, dan agar orangtua menemukan metode lain untuk mendisiplinkan anak-anak mereka.
Bila Anda sering memukul anak sebagai hukuman, sebaiknya Anda segera menghentikannya. Mungkin anak terlihat baik-baik saja, dan langsung menurut apa yang Anda katakan. Namun di balik itu, ia akan menyimpan trauma dan menyebabkan kesehatan mentalnya terganggu.
Mari kita wariskan hal yang baik pada anak untuk ia terapkan pada generasi mendatang, dan bukannya metode yang merugikan seperti pemukulan

Categories

Pages

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts