Rabu, 15 Februari 2017


 

Penelitian selama 50 tahun ini menunjukkan bahwa memukul anak bisa menyebabkan trauma, IQ rendah, perilaku anti sosial, dan gangguan kesehatan mental.

Saat anak berbuat nakal, atau tidak mematuhi permintaan, seringkali orangtua merasa geram dan ingin memukulnya. Bahkan ada beberapa orangtua yang menerapkan memukul anak di tangan atau di pantat sebagai cara untuk mendisiplinkan anak.
Tapi parents, berhati-hatilah. Memukul anak bisa menyebabkan IQ-nya menjadi rendah, selain itu, pemukulan walaupun tidak meninggalkan bekas luka tetap menimbulkan trauma bagi anak-anak. Beberapa studi telah membuktikannya.

Anak yang sering dipukul cenderung memiliki IQ yang rendah

Sebuah penelitian yang melibatkan ratusan anak-anak di Universitas New Hampshire Amerika Serikat menunjukkan, anak yang sering mendapat pukulan, cenderung memiliki tingkat IQ yang rendah.
Murray Straus, pemimpin riset ini menyatakan, “Penelitian menunjukkan bahwa menghindari pemukulan dan menjalankan metode lain untuk mendisiplinkan anak bisa membantu anak agar lebih cerdas.”
“Saya yakin, memukul anak menyebabkan kemunduran dalam perkembangan anak dan kemampuan mentalnya.”
Straus dan rekannya Mallie Paschall dari Institute for Research and Evaluation di Maryland meneliti sejumlah anak yang mewakili anak-anak di negara mereka. Straus dan Paschall membaginya ke dalam dua grup berdasarkan umur, 806 anak usia 2-4 tahun, dan 704 anak berusia 5-9 tahun.
Mereka menguji tingkat IQ si anak pada awal penelitian, kemudian mengujinya kembali empat tahun kemudian. Anak-anak yang berada di kedua grup terbukti bertambah cerdas.
Tetapi anak-anak umur 2-4 tahun yang mengalami pemukulan memiliki skor 5 poin lebih rendah, dibanding mereka yang tidak pernah dipukul orangtuanya. Anak-anak umur 5-9 tahun yang pernah dipukul, rata-rata nilai IQ-nya lebih rendah 2.8 poin dibandingkan rekan mereka yang tidak dipukul.
Riset ini juga melibatkan statistik yang menerangkan pendidikan orangtua, pemasukan bulanan, stimulasi kognitif dari orangtua, dan faktor-faktor lain yang bisa memengaruhi kesehatan mental anak.
“Berlawanan dengan apa yang dipercayai orang, dipukul oleh orangtua adalah pengalaman traumatis bagi anak, kami mengetahui dari berbagai penelitian bahwa trauma menekan otak secara negatif,” ujar Straus.
Trauma juga bisa menyebabkan anak-anak mengalami stres saat menghadapi situasi sulit, dan kemampuan kognitifnya juga tidak bekerja dengan baik.
Dengan memukul, orangtua memberikan hukuman agar anak memerhatikan dan berperilaku sesuai keinginan orangtua. Tapi hal ini tidak merangsang anak untuk berpikir secara mandiri, sehingga mencegah anak untuk menemukan solusi terbaik dari masalah yang ia hadapi secara mandiri. Karena anak akan cenderung berperilaku baik hanya untuk menghindari pukulan.

Dampak panjang memukul anak

Sebuah penelitian lain dilakukan selama 50 tahun di Universitas Texas dan Universitas Michigan, melibatkan lebih dari 160 ribu anak-anak dan dipublikasikan di Journal of Family Psychology.
Riset tersebut menemukan bahwa anak-anak yang dipukul, cenderung memiliki sikap menentang, perilaku anti sosial meningkat, agresif, kesehatan mental yang bermasalah, dan juga kemampuan kognitif rendah.
Studi ini memusatkan pada anak-anak yang mengalami pemukulan secara wajar, seperti pukulan di pantat, atau tamparan di tangan. Dan pemukulan yang bersifat kekerasan yang menyebabkan luka berbahaya.
Andrew Grogan-Kaylor, rekan profesor di Universitas Michigan yang menjadi co-author dalam studi ini menemukan bahwa pemukulan (dilakukan dengan telapak tangan terbuka pada pantat atau kaki dan tangan anak), secara signifikan berhubungan dengan 13 dari 17 dampak merugikan yang mereka teliti.
“Pemukulan membuahkan hasil yang berlawanan dengan apa yang orangtua inginkan,” ujar Andrew.
Elizabeth dan Andrew meneliti dampak jangka panjang pada orang dewasa yang mengalami pemukulan saat masih anak-anak. Hasilnya, mereka yang lebih sering dipukul cenderung menampakkan perilaku anti sosial dan mengalami masalah kesehatan mental.
Orang dewasa yang mereka teliti juga cenderung akan melakukan jenis hukuman yang sama pada anaknya, yang menjadi kunci bahwa perilaku menghukum anak dengan memukul diwariskan dari generasi ke generasi.
Laporan UNICEF tahun 2014 menyatakan bahwa 80% orangtua di seluruh dunia melakukan pemukulan sebagai cara untuk mendisiplinkan anak. Para peneliti juga telah melihat berbagai macam studi yang menunjukkan bahwa pemukulan seperti ini menghasilkan dampak negatif.
“Masyarakat berpikir bahwa dengan dipukul anak akan menunjukkan perilaku berbeda. Namun penelitian kami menunjukkan bahwa pemukulan berhubungan dengan dampak negatif yang serupa dengan akibat dari kekerasan, hanya beberapa tingkat lebih rendah.”
Elizabeth berharap bahwa studi yang dilakukan oleh mereka bisa mengajarkan orangtua potensi bahaya dari memukul anak, dan agar orangtua menemukan metode lain untuk mendisiplinkan anak-anak mereka.
Bila Anda sering memukul anak sebagai hukuman, sebaiknya Anda segera menghentikannya. Mungkin anak terlihat baik-baik saja, dan langsung menurut apa yang Anda katakan. Namun di balik itu, ia akan menyimpan trauma dan menyebabkan kesehatan mentalnya terganggu.
Mari kita wariskan hal yang baik pada anak untuk ia terapkan pada generasi mendatang, dan bukannya metode yang merugikan seperti pemukulan

Sabtu, 29 Oktober 2016

Islam mempunyai dasar dan tata cara tersendiri dalam mendidik anak. Karena dalam Islam, anak memiliki peran yang sangat penting.


Al-Quran Telah Memberikan Panduan yang Jelas dalam Mendidik Anak
Al-Quran Telah Memberikan Panduan yang Jelas dalam Mendidik Anak

Parenting Islami, Salah Satu Konsep Mendidik Anak
Saat menikah dan kemudian berharap memiliki seorang anak; seharusnyalah kita juga telah mempersiapkan konsep seperti apa yang hendak kita terapkan dalam mendidik anak kita kelak, karena mendidik anak dalam Islam memiliki tata cara dan aturan tersendiri.
Di dalam Islam, anak memiliki kedudukan tersendiri yang harus kita jadikan pegangan dalam memilih model/cara mendidik anak yang akan kita lakukan.
Kedudukan Anak dalam Pandangan Islam
Mendidik anak dalam Islam harus didasarkan pada petunjuk dari Allah, yaitu Al-Quran, karena Al-Qur’an tidak hanya membahas tentang kewajiban anak kepada orang tua, namun juga kewajiban orang tua kepada anaknya.
Dan berikut ini adalah pandangan Al-Quran tentang anak, yang perlu kita ketahui dalam mendidik anak :
1. Anak sebagai Amanah bagi Orangtuanya
Selayaknya para bijak mengatakan bahwa sesungguhnya anak-anak bukanlah milik kita; mereka adalah titipan dari Allah kepada kita. Untuk itu sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mendidik anak sesuai dengan yang telah Allah perintahkan. Jadi, adalah kesalahan bagi orang tua apabila seorang anak jauh dari ajaran Islam.
2. Anak sebagai Generasi Penerus
Anak adalah harapan di masa depan; merekalah kelak yang akan menjadi pengaman dan pelopor masa depan agama dan bangsa. Jadi wajib bagi kita mendidik mereka untuk menjadi generasi tangguh di masa depan. Lebih jauh, Allah memerintahkan kita sebagai orang tua untuk menjauhkan mreeka dari api neraka kelak.
3. Anak adalah Tabungan Amal Kita di Akhirat
Seperti telah kita tahu, bahwa selain amal kita di dunia, sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang saleh merupakan amalan yang pahalanya akan terus mengalir hingga hari penghitungan kelak. Jadi, mendidik anak sesuai perintah Allah tetaplah merupakan keuntungan bagi diri kita juga pada akhirnya.
4. Anak adalah Penghiburan dan Perhiasan Dunia bagi Orang Tuanya
Anak adalah perhiasan bagi orang tua. Di satu sisi, ia akan menjadi penghibur di kala lelah dan kesusahan melanda, namun di satu sisi, ia juga dapat menggelincirkan dari jalan Allah.
Berdasar pemahaman akan kedudukan anak dalam al-Qur’an diatas, maka ada 3 kewajiban orang tua dalam mendidik anak, yaitu:
1.Memberikan Dasar Hubungan Harmonis dengan Allah SWT (Habbuminnallah)
Sebagai orang tua kita harus dapat mengenalkan kepada anak-anak kita siapa Allah dan mengapa kita wajib taat padaNya. Ketaatan itu tidak karena Allah adalah pencipta, dan pemilik kita, namun karena dengan taat kepadaNya, hidup kita akan menjadi lebih baik dan bahagia.
Dengan memberikan dasar sedemikian, maka anak tidak akan menganggap Allah sebagai sebagai “hakim” atau “pengawas”; namun sebagai zat yang memang kita butuhkan keberadaanNya. Hal inilah yang harus kita jadikan landasan utama dalam mendidik anak sekaligus merancang pola asuh yang tepat baginya.
Salah satu cara untuk memberikan dasar habbuminnallah adalah dengan mengajarkan shalat kepada anak semenjak kecil. Dan kemudian mulai memberikan pengertian mengapa kita harus shalat, apa manfaat shalat dan seterusnya.
2. Memberikan dasar hubungan yang harmonis dengan orang-orang di sekelilingnya
Dalam Islam, hubungan antar manusia (hablumminanas), sama pentingnya dengan hubungan manusia dengan Allah (hablumminnallah). Bahkan nabi Ibrahim berdoa kepada Allah: “… agar mereka dicintai orang-orang…” Jadi, wajib bagi kita mengajarkan tata cara pergaulan yang baik dengan sesama dan dilandasi rasa saling hormat-menghormati; serta mampu bersikap asertif.
3. Memberikan dasar yang kuat guna menghadapi tantangan jaman
Nabi pernah bersabda bahwa Beliau mengkhawatirkan umat dibelakangnya yang akan seperti busa di lautan; banyak namun tidak berpendirian. Hal semacam inilah yang harus kita pertimbangkan saat merencanakan pendidikan dasar bagi anak-anak kita.
Misalnya bagaimana agar ia menjadi anak yang kuat imannya, santun kepada sesama, serta kuat pula ilmunya. Ilmu akan membuat ia mampu bertahan serta senantiasa memiliki jalan ikhtiar untuk keluar dari permasalahan yang ia hadapi.
Nah, mari Parents, kita koreksi kembali apakah telah benar langkah yang kita ambil dalam mendidik anak kita di rumah. Jika masih ada yang kurang, mari kita lengkapi, jika ada yang keluar jalur, mari kita benahi.
Jika telah benar dan sesuai perintah Allah, mari kita berdoa agar Allah senantiasa menjaga keistiqomahan, lisan dan hati kita dari hal-hal yang tidak Allah kehendaki.


                               Mengajar Anak Mengenal Allah
Seperti yang pernah kami bahas dalam artikel 3 Kewajiban Orang Tua dalam Mendidik Anak; salah satu kewajiban orang tua Muslim adalah memberikan dasar hubungan yang harmonis dengan Allah SWT agar kelak mereka menjadikan Allah sebagai sumber kebahagiaan mereka.
Mereka taat kepada Allah karena paham perintah Allah membuat mereka tentram. Menjaga sikap dan berbuat baik kepada sesama, karena mereka sadar, itu adalah perintah Allah yang digariskan kepada mereka demi kebahagiaan mereka pula. Dan terakhir, agar kelak mereka mengenal Allah dan menjadikanNya sebagai temapat bergantung dan meminta pertolongan.
Agar Anak Mengenal Allah, Lakukan Langkah-langkah yang Tepat
Seperti cara mendidik anak yang lainnya; modal utama kita untuk mendidik putra-putri kita, adalah keteladanan. Jadi, bila kita ingin kelak anak-anak kita mengenal Allah dengan baik, maka kita pun harus mengenal Allah dengan baik pula.
Setelah diri kita mengenal Allah (dan selalu berproses untuk semakin mengenalNya), maka kini saatnya kita mengenalkan Allah kepada anak-anak kita. Dan berikut adalah tahapan untuk mendidik agar anak Anda mengenal Allah:

1. Memperdengarkan kalimat “Laa Illaaha Illallah” pada saat ia lahir
Kalimat tauhid inilah yang pertama kali harus kita perdengarkan di awal kehidupan anak-anak kita. Sehingga kalimat itu membekas dan menjadi cahaya bagi hati mereka.
Rasullullah saw pernah bersabda:”Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat “Laa Illaaha Illallah”.
Dan sesuai dengan ajaran Nabi tersebut, Imam al Baqir dan Imam ash Shadiq radiyallhau ‘anhu dalam kitab Al-Amali menuliskan, ketika anak kecil berusia 3 tahun maka ajarkan kepadanya “Laa Illaaha Illallah” sebanyak 7 kali. Kemudian biarkan ia sampai usia 3 tahun 3 bulan, lalu ajarkan padanya, “Muhammad Rasulullah” sebanyak 7 kali.”
Akan lebih baik bila ibulah yang senantiasa mengajarkan kalimat-kalimat tersebut. Karena suara ibu berbeda dari suara-suara yang lain. Bahkan menurut penelitian para ahli, cara ibu berbicara atau berucap, akan lebih menguatkan pesan pada diri anak.

 2. Mengajaknya untuk melakukan shalat sedari kecil
Shalat adalah sarana kita untuk berhubungan (berkomunikasi) dengan Allah. Karena itu wajib bagi orang tua Muslim untuk mengajarkannya semenjak dini. Seorang ibu yang hamil dan senantiasa menjaga waktu-waktu shalat, sebetulnyalah telah mengajarkan shalat kepada calon anaknya kelak.
Setelah anak lahir, kita dapat mendudukannya atau mengajaknya shalat bersama. Bagi balita terlebih batita, terkadang hal ini sulit dilakukan karena biasanya mereka akan bosan berdiam diri dalam waktu yang cukup lama. Hal seperti ini tidak perlu dipermasalahkan, tetaplah telaten mengajaknya. Yang penting mereka melihat kita shalat tepat waktu lima kali dalam sehari semenjak dini. Kelak ketika mereka berusia 2 tahun kita dapat mengenalkan shalat kepada mereka melalui dongeng, dan kemudian berahap kepada cara berwudhu, shalat berjamaah dan seterusnya. (Kami akan membahas tentang tahapan mengenalkan shalat kepada anak, pada artikel berikutnya.)
3. Memperkenalkan sifat-sifat Allah kepada anak
Mengajak anak mengenal Allah bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah; terlebih kepada balita, dimana konsep pemikiran mereka masih segala sesuatu yang bersifat konkret. Terlebih membuat mereka mengerti sekaligus memahami bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu yang ada di bumu ini. Untuk itu penjelasan yang diberikan juga harus dimulai dari hal-hal yang sifatnya konkret, menuju abstrak. Misalkan ketika anak sakit maka kita dapat mengatakan, “Kakak minum obat dulu, ya. Setelah itu berdoa kepada Allah, semoga Allah yang Maha Berkehendak segera menyembuhkan Kakak.”
Mengenalkan Allah melalui sifat, dan namanya juga dapat dilakukan melalui dongeng, seperti buku seri “Mengenal 99 nama dan sifat Allah”.

4. Mengajak anak untuk mengenal diri dan lingkungannya serta mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan
Dalam suasana santai kita juga dapat mengajak anak untuk mengenal Allah. Seperti ketika mengajarkan anak untuk mengenal bagian-bagian tubuhnya; maka kita dapat mengatakan, “Subhanallah, Allah memang Maha Sempurna, ya, lihat tangan dan kaki adik Allah bentuk dengan begitu sempurna,” atau mengajaknya bersyukur karena lingkungan rumah yang sudah tidak banjir lagi.
Hal-hal sekecil apapun dapat kita kaitkan dengan sifat-sifat Allah. Dongeng, momen-momen menggembirakan anak, juga dapat kita gunakan sebagai sarana untuk mengenalkan anak kepada Allah.

5. Allah dulu, Allah lagi, dan Allah lagi
Seperti yang Ustadz Yusuf Mansur sering ajarkan dalam setiap dakwahnya; apabila kita menginginkan sesuatu atau memiliki sebuah cita-cita; maka alangkah baiknya jika di awal kita “ceritakan” keinginan tersebut kepada Allah. Tujuannya agar Allah meridhoi dan memudahkan jalan kita. Setelah itu, sebelum melakukan ikhtiar, jangan lupa untuk berdoa terlebih dahulu. Dan kemudian iringi usaha tersebut dengan kepasrahan akan hasil terbaik menurut Allah SWT.
Jika kita senantiasa melakukan hal di atas, secara tidak langsung anak pun akan belajar untuk selalu menyertakan Allah disetiap keinginnanya. Kita juga dapat membiasakan berucap “Insya Allah” saat anak meminta kita untuk berjanji, atau mengjak anak berdoa ketika ia menginginkan sesuatu. Contoh “Mari kita berdoa kepada Allah, semoga Allah memudahkan dan menambah rejeki ayah dan ibu, sehingga ayah bisa segera membelikan mainan yang adik inginkan.”

Tips mengajak balita sholat tarawih di masjid agar mereka tidak rewel dan mengganggu kekhusyu'an ibadah jamaah lain, sekaligus mengajar balita sholat

balita sholatShareShareShareShare
Shalat Tarawih yang hanya dilaksanakan setahun sekali selama sebulan penuh di dalam bulan Ramadhan memang bukan shalat wajib. Namun sudah menjadi budaya masyarakat muslim untuk berbondong-bondong meramaikan masjid di setiap malam Ramadhandengan melakukan shalat Tarawih berjamaah di mushola dan masjid. Selain untuk menjaga kekerabatan antar umat muslim, juga bisa sebagai ajang silaturahmi antar sesama muslim.
Shalat tarawih bisa juga dilaksanakan di rumah secara berjamaah bersama keluarga. Namun karena pahala di bulan Ramadhan yang berlipat, banyak yang lebih memilih untuk melaksanakannya di masjid bersama dengan umat muslim lainnya. Naa, bagi para Ibu yang masih memiliki balita, mereka tentunya terkendala dengan adanya para balita tersebut. Karena umumnya balita akan rewel di tempat asing dan keramaian.
Di sini kami bagikan tips bagaimana mengajak balita sholat tarawih di masjid, hal ini bisa juga diterapkan saat mengajak balita sholat Ied di masjid.

Mangajak Balita sholat tarawih di masjid untuk usia dibawah 1 tahun

Ibu dengan balita yang berusia masih di bawah 1 tahun sebaiknya melaksanakan shalat tarawih di rumah saja, karena pada usia tersebut bayi masih belum bisa di ajak kompromi, sewaktu-waktu masih harus menyusu. Meskipun masalah kencing dan BAB sekarang sudah bisa diatasi dengan pemakaian diapers, namun bayi juga masih gampang menangis dan akan mengganggu jamaah lain.

Mengajak Balita sholat tarawih di masjid untuk usia dibawah 3 tahun

Sebagai orangtua Anda lebih tahu tipikal balita Anda. Jika balita Anda termasuk yang tidak rewel, Anda bisa saja mengajak balita shalat tarawih di masjid. Namun jika mereka tipikal yang mudah rewel dan susah beradaptasi dengan lingkungan, bersabarlah untuk tidak ikut tarawih di masjid dulu.
Jika Anda mengajak balita sholat tarawih ke masjid, persiapkan dan pastikan hal berikut ini:
  • Balita Anda sudah cukup tidur sehingga dia tidak akan mengantuk dan rewel
  • Balita Anda sudah cukup kenyang sehingga dia tidak akan lapar dan rewel
  • Bawakan susu karena sewaktu-waktu mereka akan minta susu
  • Jangan lupa pakaikan diapers. Balita usia di bawah 3 tahun masih sering ngompol dan Anda tidak ingin mengotori masjid yang suci khan?
  • Bawakan mainan kesayangan dia (yang tidak mengeluarkan bunyi, misal: boneka, mobil-mobilan, dan semacamnya).
  • Jangan lupa juga biasakan mereka juga ikut mengenakan mukena buat perempuan atau sarung dan peci buat yang laki-laki.

Mengajak balita sholat tarawih di masjid untuk usia diatas 3 tahun

Balita di atas 3 tahun sudah cenderung lebih mudah diarahkan. Namun dua point di atas masih harus diperhatikan untuk menghindari mereka rewel.
  • Balita Anda sudah cukup tidur sehingga dia tidak akan mengantuk dan rewel
  • Balita Anda sudah cukup kenyang sehingga dia tidak akan lapar dan rewel
Bagi sebagian balita usia ini mungkin sudah tidak tergantung dengan botol susu-nya sehingga Anda tidak perlu membawa bekal susu buat mereka. Bahkan pada usia ini mereka akan cenderung meniru untuk ikut-ikutan shalat. Mudah-mudahan tips ini bermanfaat ya Bun…

Sikap asertif merupakan salah satu modal anak untuk menang dan sukses dalam kehidupan sosialnya.

Sikap asertif akan membantu anak untuklebih mudah bersosialisasiShareShareShareShare
Sikap asertif akan membantu anak untuklebih mudah bersosialisasi
Bermain bersama dengan teman sangat baik untuk putra-putri kecil kita. Namun bagaiman bila ia tak mampu menjaga diri dari keusilan teman-temannya? Memarahi kawan mainnya pun jelas tak mungkin. Bisa jadi si Kecil malah akan senantiasa berlindung atau menggunakan nama kita. Disinilah pentingnya mengajarkan teknik berkomunikasi pada si Kecil. Mengatakan apa yang menjadi keinginannya tanpa perlu menyakiti lawan bicara atau membuatnya bertengkar dengan temannya. Sikap seperti ini disebut dengan sikap asertif.
Sikap asertif akan membuat seseorang mampu mencapai win-win solution saat ia menghadapi masalah dengan temannya. Berpegang teguh pada kehendaknya, namun disaat yang bersamaan, mampu menghormati hak orang lain (Lisa M. Schab, LCSW, author of Cool, Calm and Confident: A Workbook to Help Kids Learn Assertiveness Skills).
Sikap asertif dapat dididik semenjak kecil. Caranya, dengan menumbuhkan rasa kesadaran akan apa yang ia mau. Dan kemudian, kita sebagai orang tua, memastikan bahwa keingiannya tersebut dapat kita penuhi. Misalkan ketika si Kecil masih bayi; ia akan menyampaikan “I message” dengan cara menangis. Pada saat seperti inilah kita dapat mengatakan, “Oh, adik lapar ya, nah. Mamam dulu ya.”
Agar si Kecil dapat terus belajar, tanggapan kita akan tangisannya tersebut harus selalu dilakukan. Meski belum dapat berbicara, cara ini akan terekam terus dalam ingatannya.
Pada si Balita, menumbuhkan sikap asertif tentunya lebih mudah, karena anak sudah dapat diajak berkomunikasi. Saat ia mencoba mengamuk, ajarkan untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Pahami masalahnya, janganlah larut terbawa emosi. Tidak lupa ajarkan pula kata-kata seperti tolong, permisi, maaf, dan teriam kasih.
Dan berikut 5 langkah efektif untuk menumbuhkan sikap asertif kepada si kecil:
1. Berikan contoh pada anak
Aturan pertama dalam mendidik anak selalu sama: jadilah role model untuk anak. Bila orang tua tak pernah menghargai pendapat anak, sering memaksakan perintah tanpa alasan jelas, mudah dipastikan bahwa anak akan tumbuh menjadi pribadi yang ragu-ragu. Untuk itu, hargai apa yang menjadi hak dan pendapat anak.

Untuk anak yang lebih kecil, dapat juga kita mengajaknya bermain peran. Tunjukkan bagaimana cara menghargai pendapat, menolak pendapat namun tidak menyakiti, kapan harus mengalah dan kapan harus mempertahankan pendapatnya. Dengan cara ini, anak akan belajar bagaimana ia harus berhubungan dengan orang lain.
Usahakan acara bermain dilakukan juga bersama anak-anak diluar lingkungan keluarga. Karena dalam keluarga, biasanya anak yang besar seringkali diminta mengalah pada si Kecil tanpa alasan yang jelas. Atau malah sebaliknya, selalu mengalah pada si Kecil karena ia adalah anggota termuda dalam keluarga.
Kebiasaan selalu meminta anak mengalah akan membuat anak tidak lagi dapat menyampaikan I message-nya. Sementara kebiasaan selalu dimenangkan, akan menimbulkan gangguan emosi pada si Kecil saat orang-orang dilingkungannya tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan atau keinginannya.
2. Berikan kasih sayang penuh
Kasih sayang akan membentuk anak menjadi pribadi yang percaya diri. Rasa percaya diri adalah modal anak untuk memasuki lingkungan yang lebih besar di luar lingkungan rumahnya. Rasa percaya diri erat kaitannya dengan sikap asertif. Karena anak percaya diri tentu akan lebih mudah untuk menyampaikan apa yang menjadi keinginannya.

3. Ajarkan anak untuk mandiri.
Salah satu hal yang mendorong seseorang untuk percaya diri adalah kemampuan untuk melakukan dan memnuhi semua keperluan yang berkaitan dengan diri sendiri. Untuk itu ijinkan anak untuk belajar mandiri sedari dini. Sebagai orang tua kita cukup menjadi fasilitator guna mempermudah proses belajarnya. Misalkan dengan mengijinkan belajar mandi sendiri, memakai baju, hingga memilih mainan yang ia beli.

Pribadi yang tak mandiri tidak hanya akan berpengaruh kepada karakter anak. Bila anak tidak menjadi pribadi manja, ia akan menjadi pribadi yang senang memerintah, penakut, dan tidak percaya diri dengan kemampuannya.
4. Dorong dan ijinkan anak untuk membuat keputusan
Anak dapat belajar membuat keputusan dari hal-hal ayng terkecil. Misalkan memilih jenis makanan yang ingin ia jadikan bekal , memilih baju, mainan, warna favorit dan masih banyak lagi. Hormati apa yang menjadi pilihannya. Jika tidak sesuai atau tidak pantas, berikan alasan yang tepat dengan penjelasan yang bijaksana.

5. Ajarkan untuk menghargai diri sendiri.
Berbagi bersama teman tidak berarti ia harus mengorbankan semua yang ia miliki. Ajarkan bahwa kita juga perlu menghargai milik sendiri. Misalkan bila mainannya tidak dikembalikan oleh temannya, maka ajak ia untuk meminta kembali mainannya tersebut. Selain itu cobalah untuk mengemukakan mana “Milik Ibu” dan “Milik Anak.” Minta ia untuk meminta ijin jika ingin menggunakan “Milik Ibu”, begitu pula sebaliknya. Ketika Ibu harus meminjam “Milik Anak”, maka lakukan hal yang sama dan segera kembalikan bila telah selesai memakainya. Cara ini selain mengajarkan sopan santun, anak juga akan belajar bagaimana menghargai batasan masing-masing pribadi.

Perlu diingat bahwa usaha menumbuhkan sikap asertif juga memerlukan dukungan dari orang-orang disekitar anak. Untuk itu informasikan pola pengasuhan ini dengan pengasuh, kerabat, juga guru di sekolah.

6 Tips Parenting Dahsyat

img-1444899754.jpg
        Menjadi orang tua yang baik memang tidak mudah, untungnya semua pernak-pernik dalam mendidik dan membesarkan si buah hati dapat dipelajari. Informasi dan panduan seputar bagaimana menjadi ayah dan bunda yang baik bagi si kecil dapat dengan mudah di akses baik melalui buku-buku atau online melalui internet, plus tentu saja ayah bunda dapat meminta saran dan masukan dari mereka yang telah berpengalaman dalam mendidik dan membersarkan si kecil.
         Berikut adalah 6 tips parenting yang khusus diperuntukan bagi ayah bunda yang barusaja dikaruniai buah hati terutama mereka yang sedang beranjak menuju usia balita. Tips-tips sederhana tersebut dapat dijadikan bahan masukan agar skil parenting ayah bunda semakin terasah serta si kecil dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
1. Tidak membanding-bandingkan
       Hindari membanding-bandingkan si kecil dalam hal apapun dengan yang lain. Saat yang lain sudah mulai berjalan tapi si kecil masih belajar merangkak, terima kondisi ini sebagai hal yang harus selalu disyukuri. Ingat setiap anak adalah pribadi unik sehingga menjadi tidak adil saat di banding-bandingkan dengan yang lain.
2. Terima kesalahan si kecil 
     Orang dewasa saja masih sering melakukan kesalahan, apa lagi anak balita yang masih dalam tahap perkembangan. Jangan alergi saat si kecil melakukan sesuatu yang bertentangan dengan aturan ayah bunda. Semisal saat mereka suka memukul, alih-alih memarahi dan menghukum si kecil, cari tau apa yang memicu mereka berbuat demikian kemudian cari solusinya tepatnya agar mereka menghentikan kebiasaan buruknya.
3. Konsisten dengan aturan
         Si kecil yang beranjak balita masih belajar memahami aturan yang berlaku dimasyarakat, sehingga konsistensi ayah bunda dalam hal menerapkan aturan menjadi sangat penting. Umpamanya dalam hal konsistensi waktu tidur, atau saat ayah bunda ingin menerapkan kebiasaan-kebiasaan baik pada si buah hati, lakukan secara konsisten agar karakter mereka dapat terbentuk sebagaimana yang diharapkan.
4. Toleran dengan kesalahan si kecil
             Sikapi prilaku buah hati dengan bijak, saat mereka berbuat salah, belum tentu mereka merniat demikian. Mental dan emosi mereka sedang dalam masa perkembangan sehingga berbuat tidak sesuai aturan orang dewasa adalah hal biasa. Adalah tugas ayah bunda untuk membimbing dan meluruskan dengan cara yang bijak saat mereka melakukan kesalahan.
5. Percaya diri
          Menjadi orang tua terbaik adalah potensi yang dimiliki oleh setiap ayah bunda, namun sebagaimana keahlian lainya, perlu waktu dan kemauan untuk belajar. Memiliki rasa percaya diri bahwa kita bisa menjadi orang tua terbaik bagi anak-anak kita adalah modal berharga yang selalu harus ditanamkan pada setiap diri kita.
6. Evaluasi kualitas sebagai orang tua secara berkala
           Kalau perlu buat catatan terlulis untuk mengevaluasi hal apa saja yang perlu kita sempurnakan dalam menjalankan tugas sebagai orang tua. Jangan sungkan untuk menerima masukan dari luar dan selalu mau memperbaiki pola didik terhadap si kecil jika dirasa ada hal yang masih belum sempurna.


Walter Mini :

Chip Memori 8GB 2 batterai AAA Fungsi rekam dan putar ulangAdaptor

Program terdiri dari :

25 Buku sampul tebal termasuk indeksWalter dengan chip memori 2 GBPetunjuk penggunaan

Walter Mini membuat seri menjadi hidup dengan lebih dari 10.000 file suara tertanam ke dalam halaman

- File suara termasuk narasi karakter, menarik fakta tambahan, efek suara, puisi, sajak, dan lagu-lagu

Note : untuk yang sudah buku WWP (Widya Wiyata Pertama)

untuk pemesanan silahkan klik DISINI

Categories

Pages

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts